kau pribumi terpelajar! kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus, harus, harus. harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.
jadi beginilah awalnya
Kami
bertemu pertama kali di hari selasa sore. Pertemuan yang menyenangkan dan jauh
dari kesan yang telah ada di bayangan saya sejak diminta pertama kali untuk
melakukan observasi di tempat ini. Terlebih, observasi hari pertama yang saya
dan dua teman lainnya lakukan tidak mendapat hasil apapun selain gambaran
lokasi tempat tinggal penduduk. Hari pertama kami observasi, hari minggu pagi. kami hanya jalan sepanjang lorong tempat
tinggal yang berdempetan menemukan ujungnya. Kembali lagi ke tempat awal,
tempat memarkir motor, kami tidak melihat ada sesuatu yang harus diobservasi.
Lalu kami pulang dengan menerima kenyataan bahwa harusnya waktu berkunjung yang
tepat adalah sore hari dimana waktu tersebut adalah waktu anak-anak di lingkungan
ini keluar untuk bermain.
Saya
dan syifa tiba ditempat itu sangat sore, dari kejauhan kelihatan anak-anak
sedang bermain. Ada yang bermain lompat tali, bermain bola dan mainan lainnya
yang saya kurang mengerti, disekitar mereka ada ibu-ibu yang melihat mereka
bermain. Kami, saya dan syifa
kebingungan mencari alasan mengapa kami ada disini. Apa yang harus kami jawab
jika ibu-ibu itu bertanya alasan kami. Sebab, saya tidak ingin kami terlihat
sangat formal, terkesan seperti petugas data sensus. Jadi awalnya kami
berencana untuk berbohong bahwa kami ingin mampir duduk-duduk. Namun akhirnya, setelah
duduk sekitar 5 menit melihat mereka bermain, saya memberanikan diri
menghampiri salah satu ibu, bertanya alamat sekolah mereka, basa-basi tentang
lingkungan disini dan pada akhirnya saya menanyakan satu nama, nama seorang
teman yang memberi kami petunjuk untuk datang ke sini. Tika, mendengar nama
tersebut, anak-anak yang bermain langsung berhenti, berkerumun di sekitar kami,
mereka juga menyebutkan nama-nama lain yang diawali dengan kata “kak”.
“kami
diajarkan membaca, menulis dan juga mengaji kak”
Salah
satu anak riuh menjelaskan saat saya bertanya aktivitas belajar mereka
sebelumnya. Sedangkan yang lainnya sibuk menanggapi. Setelah berbincang lumayan
lama, anak-anak tersebut memaksa kami untuk diantar ke rumah Tika. Meskipun
hari sudah sangat sore, ibu mereka mengijinkan. Kami berjalan melewati
rumnah-rumah yang padat, lorong yang kecil yang tidak jarang dilewati oleh
motor meskipun sangat sempit dan orang-orang yang berkerumun di salah satu
rumah. Sayamenduga , kekerabatan antartetangga di lingkungan ini belum terkikis
seperti kekerabatan bertetangga di lingkungan kompleks mewah di Makassar.
Saya
membaca salah satu plang yang menunjukkan bahwa kelurahan ini bernama
Karampuang. Kami telah berjalan beberapa meter. Sambil berjalan kami berkenalan,
saling cerita. Mereka anak-anak yang manis dan selalu mau tahu segala hal.
Sambil berjalan dia menggandeng erat tangan saya dan Syifa sambil bertanya ini
dan itu. Mereka sibuk ingin tahu dimana kami tinggal, berkomentar tentang
pakaian yang kami kenakan dan banyak hal lain. Setelah berjalan beberapa meter
kami tiba didepan sebuah rumah. Anak-anak tadi langsung berteriak
memanggil-manggil nama Tika.
Tika
keluar dari rumah dalam keadaan bingung, namun segera tersenyum setelah melihat
kami. Kami dipersilahkan masuk, mereka sangat mengahrgai Tika, seorang kakak
yang mengajarkan mereka banyak hal. Seseorang yang membantu mereka melihat banyak
hal melalui berbagai pengetahuan. Seseorang yang mengajarkan mereka pengetahuan
dengan menyenangkan bukan dengan peraturan formal yang akan membuat mereka
jengah dan bosan. Bagaimanapun, pendidikan nonformal memang kadang lebih
efektif dibanding pendidikan formal. Lihatlah, mereka begitu tahu cara
berbicara dan bersikap dengan orang yang lebih dewasa terlebih kepada kakak
yang mengajar mereka. Kami berbicara banyak hal termasuk janji bahwa suatu hari
saya akan mengajar mereka menari dan janji syifa untuk mengajar mereka tentang
menyiar. Kami akhirnya pamit sebelum maghrib. Mereka juga harus bersiap-siap
untuk mengaji ba’da maghrib. Setelah pamit dengan Tika, kami kembali diantar
oleh anak-anak itu ke tempat semula. Mereka masih sama cerewetnya, beberapa
kali meminta kami untuk datang kembali. Saya sampai lupa untuk dokumentasi dan
juga lupa bahwa kami sedang melakukan observasi. Terima kasih untuk hari ini,
adik-adik yang manis J
05.49
|
Label:
kegiatan
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.