kau pribumi terpelajar! kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus, harus, harus. harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.

Zona Hopeless Guys, be carefull.

Dan sampailah saya di titik jenuh melakukan itu-itu saja dengan kamu-kamu saja. Ya wajar saja kalau akhirnya kita merasa putus asa tanpa sebab, bosan dan uring-uringan sepanjang hari dan parahnya kalau kita akhirnya mengurung diri menganggap semua membosankan dan memutus sosialisasi ke orang-orang. Emang ada orang yang kayak gitu? Ada laaah. Coba pokor-pikir lagi deh, jangan-jangan kita juga pernah merasa dan melakukan hal-hal kayak gitu.. ih. Tooooos buat yang udah pernah. Hahaha iya Tari juga pernah kayak gitu gaes. Kebayang gak seeh. *kemudianalay*
Eh tapi bener yah, throwback dulu nih tari waktu dlu pernah merasa hopeless banget padahal sedang tidak menaruh harapan apapun. Kemudian ngerasa ah sudahlah aku mau di kamar sini saja sampai ada keajaiban atau sampai jamuran. And you know what, waktu saya lagi ngerasa se-hopeless itu, kira-kira bulan ramadhan tengah-tengah, seisi kontrakan pada pulang kampung. Dan tinggallah saya sendiri di kamar, keluar pas sahur dan maghrib. Kalo dipikir-pikir lagi yah ini berasa “gue bego banget” hahahaha. Tapi guys, itu proses hidup. Dan syukurlah saya bisa keluar baik-baik dari zona hopeless tidak beralasan itu. Adalah emak saya yang ceerewetnya minta ampun yang nyuruh pulang kampung dan berhasil menarik paksa saya dari zona gak jelas itu.
Ada lagi kejadian, teman yang juga pernah masuk zona hopeless. Dia tiba-tiba berubah, kayak orang yang punya hutang 5 milyar, gak mau keana-mana dan bawaannya malas. Kalo biasanya abis kuliah kita pada nongkrong gak jelas, dia malah pulang ke rumah dengan kesendiriannya sedemikian rupa dan dengan kamar yang… ah sudahlah. Kalo gue cerita kasian teman kita ini . hihihi.. lalu suatu hari nih, abis kuliah tuh anak dipaksa ke kantin, dia gak mau pesan apa-apa. Cuma duduk kayak cowok kere yang manfaatin wifi warkop. Eh pas suapan ke dua saya, dia malah nangis. Yah saya dengan romantisnya menghapus airmata ini anak. Bukan masalah karena kita temenan aja sih. Soalnya juga kita lagi makan di kantin ekonomi, tuh cowok-cowok ekonomi langsung pada berbalik bingung dan merasa bersalah. Kenapa dia merasa bersalah, itu Cuma asumsi saya hahahhaa.
Yaudah, kembali sama temen saya yang alay, dia nangis sambil bilang di capeklah, gak tau kenapa, pooknya dia mau nangis. Saya Cuma bilang “iya, gak apa-apa.. memang biasa seperti itu”, padahal dalam hati juga bingung dan pusing nih anak nangis mulu. Setelah hari yang penuh haru itu. Eng ing eng…. Dia mulai cerah kembali kayak abis menang kuis TTS, asli semangat. Dan anyway kayaknya nih guys setelah melewati tahapan hopeless itu, seseorang jadi lebih “hidup”. Belum pernah nemu sih orang yang gak bisa keluar dari zona berbahaya itu. Intinya kalo ada yang lagi di zona itu, ya wajar tapi jangan lama-lama nanti malah keterusan hopelessnya guys. Kita memang kadang butuh “me time” untuk introspeksi, untuk bermalas-malasan, untuk gak peduli dulu. Pokoknya gitu2lah.. wajar. Tapi jangan keterusan yah, kamu masih makhluk hidup loh, masih harus melanjutan hidup dan berbuat ini itu. Pokoknya “me time”nya jangan kelamaan, kalau gak ada yang bias menarik kamu dari zona itu, so kamu harus keluar sendiri yah. Its cool B)

Diberdayakan oleh Blogger.

Find Me

Pengikut

Sila dibongkar

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)