kau pribumi terpelajar! kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus, harus, harus. harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.

Malam selalu menjelang pagi


Bar mulai tutup, satu persatu pengunjung yang beranjak dengan sempoyongan menutup malam yang menjelang subuh. Beberapa bekas muntahan dibersihkan oleh pelayan dengan kantuk yang tidak asing lagi. Aku menunggui seorang perempuan yang sejak lima menit lalu berusaha untuk berdiri setelah terjatuh untuk ketiga kalinya. Ia memukulku dengan tas sambil berbicara dalam bahasa yang bisa kumengerti tapi tak kupahami maksudnya.
“saya sudah memesan taxi, mbak. Mohon tunggu sebentar”
Taxi datang dan membawa pergi perempuan yang masih mabuk berat. Entah perempuan itu akan selamat sampai rumahnya, atau selamat dalam keadaan dirampok dan diperkosa, atau mayatnya besok akan mengapung di kali dekat rumahnya. Aku mual membayangkannya.
Besoknya, di bar yang sama dan selalu dengan situasi yang sama, kecuali orang-orang yang sudah tentu datang dengan tampilan dan pasangan yang beda. Disini aku tak bisa merasa jenuh. Aku bisa hidup dalam banyak hal, dalam banyak kemungkinan dan macam-macam kenyataan yang banyak orang selalu hindari. Bosan menghadapi tamu yang terlalu banyak keinginan, aku memutuskan naik ke balkon, sedikit menghirup udara segar dan melepaskan penat. Niatnya seperti itu, namun melihat sepasang kekasih sedang bercumbu di tebing balkon justru membuat udara sekitar semakin memuakkan. Aku memilih berbalik lalu turun, aku lebih baik menghirup asap rokok dan campuran jenis-jenis parfum di meja bartender, pikirku.
Aku melangkah dengan ringan dan perlahan, kemudian berhenti di depan salah satu ruangan yang setiap hari tak pernah kosong. Seorang wanita duduk menatap ke cermin memainkan asap rokok dari bibirnya. Aku mungkin menatapnya terlalu lama hingga ia balas menatapku. Ia berkata “silahkan pergi” melalui tatapan dan cara ia memainkan alisnya. Kadang-kadang aku bisa lebih mengerti dengan bahasa seperti ini. Aku kembali ke meja bartender.
Pengunjung malam ini sedikit agresif, setidaknya ini perkelahian ketiga sejak bar dibuka dan bahkan malam belum ada tanda semakin larut. Aku menduga, penyanyi seksi malam ini adalah penyebabnya. Entah darimana pemilik bar menyewa perempuan ini, dia tidak hanya seksi. Setiap gerakan yang ia lakukan di atas panggung terlihat mempesona dan membuat atmosfer bar semakin panas. Bahkan caranya memegang mic begitu membius.
Malam akhirnya lelah, satu dua kursi dinaikkan ke meja bundar berlapis kaca. Perempuan yang menyanyi tadi terlihat berciuman dengan laki-laki berdasi yang dasinya telah lepas. Aku mengira-ngira isterinya pasti akan bertanya perihal dasi itu, boleh jadi dasi itu merupakan hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 20. Perempuan melepaskan dekapannya, laki-laki tadi dihempaskan ke kursi beserta dompetnya yang kosong dan wajahnya yang kuyu. Lalu seperti biasa aku akan memanggil taxi untuknya. Tidak perduli akan jadi apa nasibnya sesampai di rumahnya. Sambil menunggu taxi, aku mengahmpiri laki-laki itu, mengambil dompet yang tergeletak, mengambil kartu nama. Supir taxi datang membantuku membopong laki-laki tua ini.
“antarkan ia ke alamat ini” kataku sembari menunjukkan kartu nama. Supir taxi mengangguk.
“ia tak punya uang, jadi sesampai di rumahnya kau boleh minta uang kepada isterinya. Katakan ia tak bisa bayar taxi karena uangnya diambil pelacur di diskotek”
Supir taxi mengangguk sekali lagi demi melihat jejeran perusahaan di kartu nama laki-laki ini, ia segera beranjak meninggalkan deru dan asap yang hilang sekejap ditelan malam yang dingin dan sayu.
Aku baru akan masuk Bar ketika perempuan penyanyi tadi mengahalangi jalan ke pintu, persis seperti seorang isteri yang menunggui suami mereka yang pulang sehabis kerja keras di kantor. Tapi, senyum perempuan ini sedikit lebih aneh dari perempuan yang mungkin akan menjadi seorang isteri. Aku menatap datar melewatinya, mengambil tas dan bangkit untuk segera pulang.
“ hei “ ia kembali menghalangi jalan
“kau melacur? Untuk apa?” kataku. Biasanya perempuan seperti ini akan menyerah, memberi jalan dan memaki sebisanya
“untuk apa? Untuk memperoleh uang, mendapat kesenangan, bahagia? Kenapa tidak? Melacur pekerjaan yang gampang dan mudah” katanya masih menatap tanpa berkedip
“oh ya. Kau benar. Terima kasih telah menjawabku”
Aku berlalu menyampirkan jaket di lengan, pulang melewati gang-gang yang amis bau pesin. Lampu-lampu jalan mulai meredup karena terang segera datang. Suara keciprak air dari rumah susun terdengar jelas. Burung-burung satu dua masih bercicit. Beberapa pedagang pasar lalu lalang membawa dagangan yang bertumpuk. Beberapa gadis di gang sebelah berjalan patah-patah bernyanyi keras berangkul-rangkul dengan tiga temannya. Sesekali mereka tertawa kemudian terjatuh, bangkit kemudian terjatuh lagi. Lebih mudah jika mereka menjadi pelacur.


Diberdayakan oleh Blogger.

Find Me

Pengikut

Sila dibongkar

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)