kau pribumi terpelajar! kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus, harus, harus. harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.

Imam, kau boleh tak memaafkan


ia lari terengah-engah hanya untuk sampai dihadapanku dan berkata "kakak datang" sambil tersenyum, tampak bahagia, aku juga tersenyum berusaha tampak bahagia, sambil lalu berjalan masuk ke rumah. ia mengikuti menungguiku duduk ikut duduk didekatku. aku duduk smbil acuh menyalakan televisi dengan khidmat "etta mana, panggilkan dulu dik" kataku tanpa beralih dari TV yang menayangkan iklan antah berantah. ini tak cukup menarik, entahlah.
etta datang, ia penuh peluh. duduk, sambil imam membawakan segelas kopi yang ia buat dengan tangannya sendiri. aku cemburu, dulu aku yang melakukan itu semua dan aku bahkan hapal takarannya tanpa perlu mencoba terlebih dahulu sebelum menghidangkannya.
aku menatap Imam yang mengerti lantas berlalu cepat-cepat pergi meskipun matanya berkata bahwa ia masih tetap ingin disini. aku menatap etta yang tak mengalihkan pandangan matanya dari tv. tampaknya tv ini menghipnotis beberapa orang disini meski sungguh sangat tak menarik. "etta.." aku tertahan, tertahan sedak di tenggorokan . etta mengepulkan asap rokoknya membuatku sedikit bernafas. rasanya nikmat menghirup aroma ini lagi, membuat sebagian teman menganggapku aneh hanya karena aku menyukai aroma asap rokok.
etta menjamah tas punggung di sisi lemari mengeluarkan sebuah kertas, mulai berbicara, semakin ia berkata aku semakain samar-samar mendengarnya. lantas wajah angkuhku mencuat. oh sungguh aku tak akan pernah suka menjadi seperti ini. sungguh.
etta pergi, sempat meminta aku berhati-hati. aku tetap terpaku menatap lamat dinding rumah yang mulai mengelupas, aku muak. dia, Imam. menatapku dari ambang pintu, tak menegerti apa-apa hanya menatap sejauh ia mampu melihat. aku melihatnya sambil ia tersadar dan sedikit tersentak
"kakak, mau makan?"
"tidak"
"kakak ingin minum teh atau milo kesukaan kakak?"
"tidak, pergilah"
ia memandangku, sepersekian detik sebelum aku membekap mulutku, ia telah sesenggukan. ia menangis. Imam, seorang anak berusia 8 tahun yang tak mengerti apa-apa menangis sesegukan dengan alasan yang tak pula ia ketahui. sambil menghapus airmatanya ia berlalu kedalam mengambil segelas air putih.
"minumlah kak, minumlah. kumohon"
ia memohon, dengarlah ia memohon. oh Tuhan aku merasa sangat jahat. aku tak tahan lagi aku mengambil tas dan segera akan berlalu sebelum ia berteriak dan meruntuhkan segala pertahananku
"kak, jangan pergi seperti ini. tinggallah sebentar"
aku menangis sejadi-jadinya berpegangan pada gagang pintu, sungguh aku tak bisa runtuh dari sebuah ego ini, kau boleh tak memaafkan aku. sungguh aku mengizinkan. biarlah.

*Etta : panggilan anak kepada ayah oleh keturunan tertentu dalam bugis

Diberdayakan oleh Blogger.

Find Me

Pengikut

Sila dibongkar

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)