kau pribumi terpelajar! kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus, harus, harus. harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.

Dan.,


Suasana ini yang akan selalu kurindukan nantinya, suara orang-orang berbicara dengan berbisik, suara dentingan air yang jatuh dari pembuangan pendingin ruangan, serta aroma kertas yang khas, Semuanya tak akan kudapati di perpustakaan manapun selain diperpustakaan kampusku ini. Aku memandangi buku-buku yang tersusun tidak rapi karena dibongkar hanya untuk sekedar melihat judul buku dan menghentikan pandanganku lama disitu sementara separuh bagian dari diriku telah tak disitu, aku memandangi semuanya serba kosong rak berdebu didepanku, buku yang telah terlepas sampulnya, kursi-kursi kosong, semua serba abu-abu kurang jelas. Sebuah buku filsafat yang terjatuh sepersekian detik yang lalu menarik separuh dari diriku untuk kembali ke kursi yang sedang kududuki sejak sejam yang lalu, pantas saja aku terkaget sebab bagian koridor ini merupakan yang paling jarang disentuh pembaca karena menempatkan buku-buku sastra dan filsafat yang bertepatan dengan ujung perpustakaan dengan jendela yang berdebu yang justru membuatku betah berlama-lama disini sejak sebulan terakhir.
angin  yang berdesir diluar  membuat kaca-kaca jendela meringis dan mencuri perhatianku untuk menengok keluar memandangi debu yang bertebaran yang beberapa bagiannya berusaha menggapai-gapai jendela, aku berpaling merasakan hembusan angin dan menengadah berusaha menahan air mata yang sedari tadi ingin tumpah hingga suara langkah mengalihkan pandanganku. Seorang wanita bejilbab sedang membolak-balik buku filsafat di rak seberang, ia terlihat tersenyum puas hingga ketiga temannya menarik buku itu dan berseru cemburu dan membuat perempuan tadi tersenyum bangga karena mendapatkan apa yang dicarinya dan merekapun melangkah menjauh, aku ikut tersenyum meski mulai menahan tangis, mengingat tiga bulan lalu saat aku selalu rutin ketempat ini mencari buku bersama ketiga sahabatku yang membuatku tak akan bisa berlama-lama sebab mereka tak begitu menyukai tempat ini dan biasanya setelah meminjam buku kami akan saling menggoda dengan pegawai perpustakaan yang manis itu, lalu saling menertawakan dan bercerita hingga terduduk di kantin kampus, dan itu dulu.
Seorang pria jangkung menarik bangku dibelakangku yang decitannya membuyarkan lamunanku. Ioa terlihat menghidupkan laptop dan memasang chargernya. Tak lama kemudian seorang wanita bermbut ikal menghampirinya menunjukkan buku tebal ditangannya dengan judul “The College Anthologi”  dengan senyum yang dibuat semanis mungkin dan membuat pria tadi tersenyum sambil mengacak-acak rambut gadis tersebut. Aku memalingkan wajah yang kali ini kubiarkan berurai air mata dan mencoba terpejam mengingat tiga bulan lalu saat aku dan kekasihku yang kupanggil kak Aan, yang karenanya kami rutin berkunjung ketempat ini setiap dua kali seminggu hanya untuk sekedar menemaninya mengerjakan tugas akhir atau skripsinya, yang dengan senang hati aku akan menumpuk sejumlah buku untuknya dan membuat keningya berkerut serta aku akan mencuri waktu untuk memasukkan makan siang untuknya yang sebenarnya dilarang oleh petugas perpustakaan dan ia akan selalu berkata bahwa ia tak butuh  apa-apa selain aku disampingnya, Dan lagi-lagi itu dulu.
Dan seperti malam yang menggantikan senja, segalanya serba berubah. Sahabatku memutuskan untuk menjauhiku bahkan membenciku saat aku menolak untuk ikut berlibur 2 bulan lalu karena menemani kak Aan untuk persiapan wisudanya, mereka menjauhiku lengkap dengan pandangan sinis setiap bertemu meski aku telah melakukan apapun untuk memperbaikinya.
Dan Kak Aan, yang katanya mencintaiku melalui separuh nafasnya, yang katanya melihat separuh takdirnya dimataku,  yang katanya harus meninggalkanku untuk mengejar cita-citanya, yang kata-katanya masih terus kusimpan meski kami tak se-takdir. Dan, Kak Aan meninggalkanku tepat saat aku tak punya siapa-siapa lagi.
 Dan besok, aku… satu-satunya anak perempuan dari mama dan ettaku yang akan dinikahkan dengan seorang pria maddara takkuq yang telah dipilihkan oleh mereka, yang kata keluargaku sebagai bayaran atas darah turun-temurun yang sama sekali tak pernah kuminta.
Angin semakin mengusik kaca jendela, di luar hujan terlihat berusaha menggapai-gapai tanah.

Diberdayakan oleh Blogger.

Find Me

Pengikut

Sila dibongkar

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)

and we all shine on, like the moon and the stars and the sun, (john Lennon)